Tampilkan postingan dengan label umroh nyunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umroh nyunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2015

HAJI & UMRAH MENGHILANGKAN KEMISKINAN

Muncul sebuah pemikiran yang salah bahwa ibadah haji dan umrah hanya membuang-buang uang saja dan termasuk pemborosan. Tentu ini pemikiran yang salah besar. Dengan beberapa alasan berikut:

1. Ibadah haji dan umrah hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu saja

Tentu bukan pemborosan dan pemaksaan jika diwajibkan bagi yang mampu saja. Mampu dalam artian mampu dari segi harta dan fisik. Jika tidak mampu maka tidak diwajibkan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).

2. Ibadah Haji dan Umrah adalah perintah dari Allah, Rabb semesta Alam

Yang namanya perintah dari Allah tentu harus dilaksanakan. Karena kita seorang hamba yang harus patuh terhadap Rabb-nya. Perlu diketahui juga bahwa semua perintah dalam syariat adalah untuk kebaikan dan kemashlahatan manusia.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya,
الدين مبني على المصالح في جلبها و الدرء للقبائح
Agama dibangun atas dasar yaitu mewujudkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”
Kemudian beliau menjelaskan,
ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف
Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh”1
Terkadang manusia hanya menghitung dengan logikanya saja dan terlalu berhitung secara matematika, padahal Allah lebih mengetahui apa yang terbaik baik hamba-Nya.
Allah berfirman,
أَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ
“Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah” (QS. al-Baqarah: 140).

3. Ibadah Haji dan umrah bisa menghilangkan kemiskinan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosasebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.”2
Syaikh Abul ‘Ula Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa maksud menghilangkan kemiskinan di sini bisa bermakna dzahir atau makna batin. Beliau berkata,
أي يزيلانه وهو يحتمل الفقر الظاهر بحصول غنى اليد ، والفقر الباطن بحصول غنى القلب
Haji dan umrah menghilangkan kefakiran, bisa bermakna kefakiran secara dzahir, dengan terwujudnya kecukupan harta. Bisa juga bermakna batin yaitu terwujudnya kekayaan dalam hati.”3
Qana’ah adalah kekayaan terbesar dalam hidup manusia, merasa bahagia dengan apa yang Allah berikan walaupun orang lain (orang kaya) menganggapnya kurang.

4. Ibadah bisa memberikan rasa ketenangan dan kebahagiaan, sangat rasional jika seseorang mengeluarkan harta untuk mencarinya

Tentu dengan beribadah dan mengingat Allah maka hati akan tenang, bahagia dan tentram. Terlebih beribadah di depan ka’bah dan kota yang diberkahi yaitu Mekkah dan Madinah.
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram“. (Ar- Ra’d : 28).
Banyak orang yang keluar negeri untuk berwisata, mencari kebahagiaan dan refreshing. Tentu mereka menghabiskan dana yang tidak sedikit. Tentu tidak ada yang salah jika seorang muslim juga mengeluarkan biaya ke luar negeri (Saudi) untuk mencari kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki melalui ibadah.
Demikian semoga bermanfaat.

***
Catatan kaki
1  Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyah hal. 41, Maktabah Adwa’us salaf
2  HR. Tirmidzi no. 810, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Silsilah As-Shahihah no. 1200
3  Tuhfatul Ahwazi 3/635
___
@Gemawang, Yogyakarta tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id
sumber:

Sabtu, 05 September 2015

UMROH SESUAI TUNTUNAN RASULULLAH

IBADAH ‘UMRAH SELANGKAH DEMI SELANGKAH

Oleh
Ustadz Ustadz Abu Minhaal -Hafizhahullahu-


Ibadah Umrah tidak disangsikan lagi membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Patut disayangkan manakala ibadah umrah yang dilaksanakan dengan biaya yang tidak murah dan dengan cucuran keringat apabila tidak dilaksanakan sesuai dengan contoh yang pernah dilakukan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Bahkan tidak jarang kaum Muslimin diajari tata cara yang sangat mengikat, menyusahkan, membebani namun tanpa dasar syariat. Sehingga terkesankan manasik umrah membingungkan dan menyulitkan. Banyaknya tata cara dan bacaan do’a yang sangat beragam yang dianggap harus dihafal dan dibaca dalam thawaf, sa’i dan lainnya. 

Padahal seharusnya manasik umrah ini harus dibuat sesuai dengan tuntunan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang cukup sederhana dan mudah. Agar semua dapat melakukan ibadah tersebut dengan benar dan khusyu’ serta diterima Allâh Azza wa Jalla sebagai amalan yang shalih.

ETIKA YANG HARUS DIPERHATIKAN.
Ada beberapa etika yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin menunaikan ibadah umrah untuk bisa mendapatkan kesuksesan. Diantaranya:

1. Hendaknya ikhlas dan mengharap ridha Allâh Azza wa Jalla dalam ibadah umrah
2. Menghindari riya dan sum’ah, ingin dipuji karena umrahnya
3. Mengikuti petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjalankan umrah
4. Menjalankan ibadah umrah dengan semangat dan serius
5. Mengharap umrahnya dapat mensucikan jiwanya dan meningkatkan derajatnya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . 
6. Memanfaatkan waktu-waktu berharga di Mekah dan Madinah dengan memperbanyak ibadah dan dzikir

BERSIAP IHRAM UMRAH
Makna ihram adalah: berniat memasuki ibadah haji atau umrah. Orangnya disebut muhrim. Dengan niat ini, maka larangan-larangan ihrom mulai berlaku sampai tahallul (dengan mencukur). Setelah tahallul, seseorang kembali ke kondisi halal melakukan hal-hal yang terlarang sebelumnya. 

Langkah-langkah berihram untuk umrah:
1. Berangkat dari tanah air menuju Jeddah atau langsung Madinah di Kerajaan Saudi Arabia. 

2. Setelah di kota Madinah, maka orang yang ingin berumrah memulai ibadah umrahnya dari miqât penduduk Madinah yaitu Dzul Hulaifah (Bir Ali)

3. Apabila langsung menuju Makkah dan melewati salah satu dari lima miqaat yang ditetapkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka berihram darinya. Biasanya di pesawat terbang diberitahu kalau mendekati miqaat agar bersiap-siap ihrom. Diperbolehkan mengenakan kain ihram di pesawat atau sebelum naik pesawat.

4. Jamaa’ah yang mampir di Madinah, apabila ingin berumrah berangkat ke miqât Dzul Hulaifah yang sekarang dikenal dengan nama Bir ‘Ali. Disunnahkan bagi yang berihrom untuk mandi dahulu lalu berniat umrah saat di Dzulhulaifah, tepat ketika bis akan berangkat meninggalkan Masjid Miqât, selama belum melewati miqot) dengan mengucapkan: 

لَـبَّـيْكَ عُمْرَةً

Aku penuhi panggilan-Mu untuk menunaikan umrah

5. Mulai membaca Talbiyah : 
Talbiyah diucapkan dengan membaca :

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكْ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكْ
إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكُ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allâh, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Tidak ada sekutu bagi-Mu, Ya Allâh aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untuk-Mu semata-mata. Segenap kerajaan untuk Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu

6. Disunnahkan bagi lelaki untuk membaca talbiyah dengan suara keras 

7. Talbiyah dibaca terus sepanjang perjalanan 

8. Sampai di Masjidil Haram: Talbiyah dihentikan saat melihat Ka’bah dan akan memulai thawaf. 

9. Memasuki Masjidil Haram dengan kaki kanan serta membaca doa masuk masjid

10. Ketika pertama kali melihat Ka’bah membaca:

اللهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ

Ya Allâh, Engkau Dzat Pemberi keselamatan, dariMu keselamatan, maka hidupkanlah kami dengan keselamatan, wahai Rabb kami

THAWAF TUJUH PUTARAN
1. Thawaf 7 putaran dimulai dan berakhir di Hajar Aswad 

2. Ka’bah berada sebelah kiri

3. Pakaian Ihram bagi lelaki disunnatkan membuka pundak kanan (al-idhzhibâ’)

4. Disunnahkan bagi lelaki untuk berlari kecil pada 3 putaran pertama.

5. Mulai thawaf dengan menuju tempat yang lurus dengan rukun Hajar Aswad (menyerong)

6. Mencium atau menyentuh Hajar Aswad, bila tidak bisa, maka dengan memberi isyarat tangan dengan mengangkatnya ke arah Hajar Aswad (dengan menghadap arah Hajar Aswad)

7. Membaca doa memulai thawaf: 

بِسْمِ اللهِ اَللهُ أَكْبَرُ 
اَللَّهم إِيْمَانًا بِكَ وَتَصْدِيْقًا بِكِتَابِكَ وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dengan nama Allâh, Allâh Maha Besar. Ya Allâh (aku mulai thawaf) dengan keimanan kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu (Al-Qur`an), dan setia menunaikan perjanjian kepada-Mu dan serta mengikuti petunjuk Nabi-Mu Shallallahu ‘alaihi wa sallam 

8. Dalam thawaf boleh membaca dzikir bebas, berdoa atau membaca al-Qur`an. 

9. Ketika akan melewati Rukun Yamani, menyentuhnya, bila tidak bisa dilewati saja.

10. Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca: 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

11. Memberi isyarat setiap melewati Hajar Aswad dengan membaca Allâhu akbar (hal ini dilakukan bila tidak bisa mencium atau menyentuhnya dengan tangan)
12. Thawaf selesai di Hajar Aswad

13. Setelah tujuh putaran selesai, berdoa di Multazam, yaitu dinding antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah (bila memungkinkan)

14. Menuju Maqam Ibrahim dengan membaca: 

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَقـَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى

Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat [al-Baqarah/2:125]

15. Mengerjakan shalat 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Membaca surat al-Fatihah dan al-Kafirun di rakaat pertama, dan al-Fatihah dan al-Ikhlash di rakaat kedua. Ketika akan shalat, posisi kain ihram (bagi laki-laki) ditutupkan kembali sehingga menutupi pundak kanan yang terbuka saat thawaf. 

16. Menuju tempat air zamzam, disunnahkan minum sampai kenyang. 

17. Menuju bukit Shofa untuk Sa’i.

Catatan: agar selalu memperbanyak dzikir dan doa kepada Allâh. 

SAI ANTARA SHAFA DAN MARWA
Sa’i adalah berjalan antara Shafa dan Marwah dengan niat beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . 

1. Usai thawaf, menuju ke tempat sa’i, dengan menaiki beberapa anak tangga yang paling dekat dengan Hajar Aswad

2. Kemudian, menuju ke Shafa untuk melaksanakan sa’i umrah dan jika telah mendekati Shafa, membaca: 

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allâh. [al-Baqarah/2:158].

3. Kemudian mengucapkan: 

نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ

"Kita memulai sebagaimana Allah Azza wa Jalla memulai"

4. Menaiki bukit Shafa (bukit ini tidak tinggi), lalu menghadap ke arah Ka’bah hingga melihatnya -jika hal itu memungkinkan- , kemudian membaca:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ 
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Allâh Mahabesar, Allâh Mahabesar, Allâh Mahabesar. 

Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allâh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allâh semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.”

5. Bacaan ini diulang tiga kali dan setelah itu berdoa dengan doa apa saja untuk memohon kebaikan dunia dan akherat.

6. Lalu turun dari Shafa dan berjalan menuju ke Marwah dengan jalan biasa

7. Disunnahkan berlari-lari kecil dengan cepat dan sungguh-sungguh di antara dua tanda lampu hijau yang berada di tempat sa’i bagi laki-laki, lalu berjalan biasa menuju Marwah dan menaikinya. (Tanda lampu hijau lebih dekat dengan Shafa). 

8. Setibanya di Marwah, mengerjakan hal-hal yang dikerjakan di Shafa pertama kali, yaitu menghadap kiblat, bertakbir, membaca dzikir dan berdoa dengan doa apa saja yang dikehendaki. 

9. Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran.

10. Kemudian berjalan menuju ke Shafa dengan jalan biasa. Ketika berada di antara lampu hijau, disunnahkan bagi kaum lelaki berlari cepat

11. Perjalanan antara Marwah dan Shafa dihitung satu putaran

12. Pada putaran-putaran berikutnya, melakukan hal yang sama seperti di atas

13. Dengan demikian, sa’i akan berakhir di Marwah.

14. Dalam perjalanan antara Shafa Marwah dan sebaliknya, tidak ada dzikir-dzikir tertentu, karenanya boleh berdzikir, berdoa, atau membaca al-Qur`an. 

15. Boleh juga membaca doa di bawah ini yang dahulu pernah dibaca oleh Sahabat Abdullah bin Mas’ud dan Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma antara Shafa dan Marwah :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ

Ya Rabbku, ampuni dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Pemurah).

TAHALLUL
Tahallul dari kata halal yang artinya seorang muhrim (yang sedang berihram) akan kembali boleh melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang dalam kondisi ihram. 

1. Tahallul dikerjakan setelah sa’i

2. Disunnahkan bagi kaum lelaki untuk mencukur seluruh rambut kepala (gundul)

3. Bagi wanita, tahallul dilakukan dengan memegang ujung rambutnya lalu memotong rambutnya kurang lebih sepanjang satu ruas jari. 

4. Dengan ini, umrah sudah selesai.

Demikian langkah-langkah menunaikan ibadah umrah secara ringkas. Semoga Allâh menerima ibadah umrah yang dikerjakan para hambaNya, dan menghapuskan dosa-dosa yang pernah diperbuat, serta meningkatkan derajat di sisi Allâh Dzat Yang Maha Pengasih. 

sumber:
http://almanhaj.or.id/content/4054/slash/0/ibadah-umrah-selangkah-demi-selangkah/